5 Nov 2009

APRESIASI TERHADAP DENSUS 88 DIELIMINIR BUAYA VERSUS CICAK

Ketika Densus 88 berhasil melumpuhkan para teroris di bumi pertiwi ini sekaligus menembak mati gembong teroris yang paling dicari Nurdin M Top maka publik dengan sangat antusias mengapresiasi kinerja Kepolisian dalam hal ini Densus 88

Berbagai lapisan masyarakat lintas generasi memberikan dukungan dan apresiasi kepada lembaga bayangkara ini. Spekulasi yang sempat beredar kalau Nurdin M Top merupakan tokoh rekayasa sekaligus terpatahkan oleh kinerja Densus 88 (Detasemen khusus 88) dan banjir pujian menjadikan Polri headline di berita-berita nasional maupun Internasional.

Begitu tipisnya antara pujian dan kecaman dari publik terhadap lembaga kepolisian. Perseteruan lembaga KPK dan Polri yang senantiasa dibantah, baik itu oleh pimpinan KPK maupun pimpinan Kepolisian tidak mampu meredam keingintahuan publik dalam meresponnya. Berawal dari pengakuan Antasari (pimpinan KPK/tersangka kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain) yang kemudian lebih dikenal sebagai testimoni, yang mengatakan wakil pimpinan KPK lainnya ada menerima suap dari Anggoro Widjaya (direktur Masaro). Terlepas dari maksud Antasari menyampaikan testimoni tersebut, bergulirlah babak baru perseteruan antara Lembaga Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Lembaga Kepolisian.

Media elektronik maupun media cetak berlomba-lomba mengupdate berita tersebut sehingga mulai menjadi perhatian publik. Sampai Presiden SBY merasa terusik dan memberi perhatian terhadap kedua lembaga ini dengan menyampaikan arahan agar masing-masing lembaga penegak hukum melakukan harmonisasi dalam pelaksanaan tuga-tugasnya. Tetapi genderang perang telah dimulai, bocornya kasus penyadapan oleh KPK terhadap pembicaraan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Susno Duadji soal Bank Century yang juga menjadi headline berita pada waktu itu, bahkan dianggap sebagai skandal terbesar semakin mempertajam sentimen antara lembaga penegak hukum tersebut. Begitu gencarnya para pemburu berita untuk mendapatkan headline medianya sampai apa yang mereka kehendaki tercapai yaitu keluarnya ucapan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Susno Duadji yang menganalogikan Polri sebagai Buaya dan KPK sebagai Cicak.

"Cicak kok melawan Buaya", kira-kira begitulah ucapan yang terlontar dari Kabareskrim Mabes Polri Komjen Susno Duadji. Sejak ucapan itu terlontar dari seorang kabareskrim yang berpangkat Komjen (atau sering diistilahkan sebagai Truno 3), maka semua media bagai mendapat Durian Runtuh. Analogi tersebut selalu dipakai untuk menyampaikan berita-berita perseteruan/rivalitas antara kedua lembaga tersebut. Sampai adanya pemanggilan wakil pimpinan KPK Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah untuk diperiksa sebagai saksi. Setelah beberapa kali dipanggil untuk diperiksa di Mabes Polri akhirnya Bibit dan Chandra ditetapkan sebagai tersangka dengan sangkaan penyalahgunaan wewenang. Publik mulai bertanya-tanya bahkan ahli hukumpun mulai silang pendapat bahkan anggota DPR sekalipun saling berdebat soal penetapan sangkaan tersebut, tetapi Kepolisian tetap bersikukuh telah cukup bukti. Bibit dan Chandra menjadi status tersangka tetapi tidak ditahan hanya wajib lapor.

Anehnya sangkaan tersebut berubah-ubah, sehingga menimbulkan kecurigaan publik adanya rekayasa atas kasus tersebut. Oleh karena desakan publik terhadap lembaga KPK yang dikebiri, dikerdilkan, dimandulkan, diamputasi, dilemahkan dan pimpinannya dikriminalisasi oleh kepolisian maka Presiden menerbitkan Perpu (yang juga pro-kontra)
Pimpinan KPK baru produk Perpu tersebut langsung bertemu dengan Kapolri dan cium pipi kiri/kanan dan dengan lantang mengatakan tidak ada rivalitas, tidak ada persaingan, bahkan Jaksa Agung Hendarman Supandji gembira sejawatnya terpilih sebagai pimpinan KPK produk Perpu. Publik mulai pesimis terhadap kinerja KPK produk perpu tersebut dan dianggap hanya untuk meng-ademkan suasana yg memanas.

Beredarnya transkrip rekaman KPK kemedia yang mencatut nama RI 1 kembali menghebohkan publik, dugaan rekayasa kasus Bibit dan Chandra seperti yang diduga banyak orang terutama penggiat anti Korupsi maupun LSM semakin mendorong keingintahuan publik apa yang sebenarnya terjadi. Sementara wajib lapor, Bibit dan Chandra mengajukan uji materi ke Mahkamah Konsitusi mengenai UU KPK tentang dinonaktifkannya pimpinan KPK apabila tersangka dan diberhentikan permanen apabila sudah terbukti bersalah (dibuktikan dipengadilan). Mereka berpendapat pasal tersebut melanggar UUD dan Hak azasi Manusia serta azas praduga tak bersalah. Mulai ramai dalam pembicaraan transkrip rekaman KPK serta Bibit dan Chandra mengikuti sidang MK, keluarlah konpers (konperensi pers) dari Mabes Polri (Wakil Kabareskrim) yang menyatakan "mulai saat ini Bibit dan Chandra" akan ditahan dengan menggunakan hak polisi.

Sontak berita tersebut menghentak pegiat-pegiat anti korupsi, Masyarakat cinta keadilan, mahasiswa, para ahli hukum dan lainnya. Namun polisi tak menggubrisnya. Bahkan Presiden tersebut mengatakan itu adalah kewenangan kepolisian. Publik menganggap rasa keadilan berada diujung tanduk, maka digalanglah berbagai elemen masyarakat seperti jejaring sosial facebook untuk dukung Bibit dan Chandra yang mencanangkan sampai sejuta, Pita hitam dilengan dan Mahasiswa mogok makan. Tekanan publik tersebut ternyata belum juga mampu menggoyahkan kepolisian sampai akhirnya presiden memanggil tokoh masyarakat. Dan akhirnya presiden membentuk Tim independen untuk verifikasi (apapun namanya) yang disebut Tim 8.

Dari KPK keluar pernyataan Pimpinan KPK hasil Perpu bahwa transkrip rekaman KPK memang ada dan disimpan di KPK. Publik semakin penasaran, sementara beredar kabar kalau polisi hendak menyita transkrip rekaman tersebut. Seperti berpacu dengan waktu akhirnya disidang MK diperdengarkanlah transkrip rekaman tersebut, sementara sebelumnya Kapolri BHD telah merilis pernyataan maaf dengan istilah Buaya versus Cicak. Tetapi publik sudah tidak mengapresiasinya lagi karena sudah terlambat. Dan terkuaklah rekaman pembicaraan antara Anggodo Widjaya dengan beberapa orang yang diduga para pejabat. Betapa bebas dan akrabnya Aggodo menghubungi para pejabat tersebut serta bernuansa mengatur. Semua terhenyak betapa bobroknya sistem penegakan hukum di tanah air kita ini, Tim 8, Hakim konstitusi, Ahli-ahli hukum dan publik seakan tersadar apa yang menjadi isu disistem peradilan kita yaitu markus (mafia kasus), cukong kasus, suap-menyuap, lobi/melobi bukan sekedarisu lagi. Dengan berani Mahkamah konstitusi beradu cepat dengan kepolisian untuk mendapatkan transkrip rekaman KPK tersebut, sehingga telanjanglah kebobrokan aparat hukum kita. Memang soal kebenaran transkrip rekaman KPK tersebut masih perlu dibuktikan, tapi setidaknya beberapa pihak telah mengakui kalau suara tersebut adalah suaranya!....Pada saat tulisan ini saya posting, Kabareskrim Komjen Susno Duadji dan Wakil Jaksa agung A. Ritonga telah menyampaikan pengunduran dirinya kepada atasannya masing-masing setelah mendapat tekanan publik maupun Tim 8 yang mengancam akan mengembalikan mandat kepada presiden apabila rekomendasinya tidak diapresiasi. Namun belakangan pengunduran diri A.Ritonga belum ditandatangani Jaksa Agung dan pengunduran Kabareskrim mabes Polri hanya untuk sementara sampai kerja Tim 8 selesai.

Pengunduran diri pejabat yang disebut-sebut dalam rekaman transkrip tersebut hanyalah penyejuk kekecewaan publik sementara atau jangka pendek. Yang lebih penting sumber daya manusia dan sistem yang mengatur agar direformasi secara total demi rasa keadilan dan kepercayaan terhadap bangsa Indonesia, sekaligus mereposisi para pejabat-pejabat terkait yang diduga terkait terhadap masalah tersebut.

Terkait pemanggilan Tim 8 terhadap Pejabat-pejabat yang diduga terlibat dalam dugaan rekayasa kasus Bibit dan Chandra maupun pimpinan lembaga tersebut, seperti kebiasaan para pejabat kita yang sangat lancar mengklarifikasi (pembelaan diri), maka pemanggilan tersebut tidak akan berdampak apa-apa. Karena pada hakekatnya Demokrasi membolehkan dukung-mendukung, pro-kontra. Maka seperti yang kita perhatikan saat ini, pendukung Bibit dan Chandra dikontra pendukung Kepolisian...Penegakan hukum di tanah air kita berada dititik nadir?????....Jawablah dengan mata hati, jangan tanya ahli hukum yang selalu berpatokan kepada legal formal undang-undang semata.

Tulisan ini adalah pendapat pribadi yang tidak mengandung kepentingan apapun!!

udutna......

16 Oct 2009

PASAHAT ULOS HERBANG DI PESTA UNJUK

Marragam do pandohan diangka napasahat ulos herbang ditingki ulaon pesta unjuk. Adong na mardongan pasu-pasu marhite angka umpasa manang umpama, jala adong muse pandohan na sotarbege tu angka loloan alani nenget nisuarana (hira dihusiphon)

Disada tingki pesta unjuk nanidohotan ima tingki pasahat ulos hela suhut parboru (simatuana) tu pengantin, dang hata pandohan nanidokna alai tangiang do songon angkup ni pandohan nasomal. Adong muse hata nanaeng sidohononna diwakilhon tu dongan tubuna.

Dison nisurathon songon rumang ni sidohonon ditingki pasahathon angka ulos herbang

Ulos Pansamot :
Napasahathon Suhut Parboru, hasahatanna suhut paranak.
Rumang penyampaiannya : Hamu lae/ito.....hupasahat hami ma nuaeng tu hamu ulos pansamot. Nunga dipatulus Tuhanta sangkap ni rohanta di parsaripeon ni anakhonta, sai dilehon Tuhan i ma dihamu hahipason, tiur ni pansarian dohot pansamotan dihamu. Asa songon hata ni situa-tua :

"Dolok ni purba tua tondonghon siborotan
Sahat ma hamu saur matua, tiur angka pansamotan

Niumpat padang togu mangihut simarbulu-bulu
Tu lelengna ma hamu mangolu rodi nasarsar uban di ulu
Sahat tu napairing-iring pahompu

Sahat-sahat ni solu sahat tu bontean
Nunga sahat be tahinta
Sai sahat ma hita horas jala gabean

Hira-hira songonima hata sidohonon diangka napasahathon ulos herbang di pesta unjuk, naeng ma nian suhut bolon mempersiaphon dirina nanaeng pasahathon ulos i, unang mewakilhon tu angka dongan tubuna.

udutna......

ARISAN OP. MORA BULAN NOPEMBER 2009

Bulan Nopember 2009 arisan Op.Mora dilaksanakan di Cileungsi di rumah D.Siahaan/br.Sitohang (A. Nando) tepatnya tanggal 8 Nopember 2009.

Bagi pomparan Op.Mora yang berdomisili di Jabodetabek dan belum mengikuti arisan tersebut dimohon datang ke arisan tersebut. Untuk konfirmasi alamat dapat menghubungi D.Siahaan/br.Sitohang HP : 081399220933

Kata Emas : Kesulitan akan bertambah bila dihitung-hitung, tetapi lenyap bila tidak diperhatikan

udutna......

12 Aug 2009

ARISAN OMPU MORA BULAN SEPTEMBER

Untuk arisan Ompu Mora bulan September dilaksanakan di rumah abang W. Siahaan/Br.Simanjuntak, alamat Duren Jaya, jln.Delima Raya No.217 Duren Jaya Bekasi

Pemberitahuan ini sekaligus undangan kepada pomparan Ompu Mora baik boru maupun bere yang berdomisili di Jabodetabek. Diharapkan kehadirannya tepat waktu Pkl.14.00 WIBB. Arisan dilaksanakan sebagai temu kangen, membicarakan hal mengenai Ompu Mora, sekaligus sharing mengenai adat istiadat khususnya terhadap pomparan Ompu Mora.

udutna......

4 Aug 2009

BATAK SIGNIFIKAN

Sering saya mendengar orang Batak mengatakan "oh, kalau omong batak aku tidak bisa lagi, soalnya dari kecil sudah di jakarta". Apakah itu kesombongan atau keprihatinan, hanya yang orang tersebut yang tau.

Tetapi saya agak kaget juga ternyata banyak dari mereka yang mengatakan tidak bisa lagi bertutur bahasa batak, namun mengikuti kebaktian hari Minggu di HKBP, suatu gereja suku (Batak) yang tata pelaksanaa ibadahnya secara tutur Batak. lha,,,,apakah bisa mengerti bahasa Batak tetapi tidak tau melafalkannya. Aneh juga kalau begitu. Banyak pula yang saya tau orang Batak yang tidak mencantumkan marganya dibelakang namanya, pernah saya tanya orang Batak yang tidak mencantumkan marga dibelakang namanya. Jawabannya sungguh memprihatinkan, "jaman gini marga tidak signifikan untuk jati diri lae", kompetensi seseorang tidak dipengaruhi marganya, tetapi kemampuannya berkompetisi". Saya agak kaget juga mendengar penjelasannya. "Memangnya kalau kita cantumkan marga kita, lantas kita sudah bernilai plus?,,,tidak ada itu lae!, sambungnya lagi.

Dalam hati saya membenarkan juga pernyataan lae itu tadi, kalau bicara persaingan untuk berkompetisi dalam test mencari pekerjaan misalnya, maka identitas marga ataupun bahasa Batak memang tidak dibutuhkan. Tetapi saya kurang sependapat juga dengan lae itu tadi, yang menilai ke-Batakan secara sempit, hanya persaingan mencari pekerjaan, ke-Batakan yang tidak sesuai dengan jaman. Ah,,,,terlalu sempit pikiran seperti itu. Bagi saya setinggi apapun pendidikannya, sehebat apapun pekerjaannya,,,,tidak sepantasnya meminggirkan identitas kesukuan kita.

Ada pula orang Batak yang bergereja ke HKBP tetapi anak-anaknya ke gereja yang lain, alasannya karena kendala bahasa. Supaya anak-anak mengerti Firman Tuhan, kalau di HKBP anak-anak kan tidak mengerti bahasanya,,, lha,,, kan di HKBP kebaktian anak-anak bahasa Indonesia, pikirku. Wah,,,,angka sidalian nama on. Bagaimana mungkin si anak mengerti bahasa Batak, kalau sejak kecil tidak diarahkan. Memang ada anekdot yang mengatakan, "Batak kalau berpendidikan tinggi akan selalu menjadi musuh Batak, perempuan Batak kalau cantik selalu merasa bukan Batak. Angka ginjang roha nama i, ate.

Bersyukur aku orang Batak, karena Bangsoku adalah Bangso yang besar, yang mempunyai uhum Dalihan Natolu. Tanpa diajarkan dilembaga pendidikan pun setiap orang Batak tau bersosialisasi dengan kerabat, lingkungan sosialnya dan setiap orang Batak mengenal istilah "Marsolup dihundulan".

udutna......

MBAH SURIP SI "TAK GENDONG"

Siapa yang tidak tau "Mbah Surip" penyanyi nyentrik berambut gimbal yang belakangan ini sering menghias layar televisi kita. Suara tertawa, ha...ha...ha...ha..."Mbah Surip" begitu familiar bagi semua kalangan, baik anak-anak, remaja maupun dewasa bahkan pejabat negara tanpa kenal gender. Luar biasa,,,Mbah Surip mampu mengalahkan tayangan-tayangan televisi yang memuakkan kita, seperti bahasan Pilpres, debat politik, maupun sinetron murahan.

Tapi hari ini Selasa 4 Agustus 2009 sekitar pukul 12.00 ini saya mendengar berita dari TV (RCTI) kalau "Mbah Surip" meninggal Dunia, kaget dan sedih mendengar berita tersebut. Seketika saya langsung buka situs berita tercepat detik.com sebagai pengantar berita tercepat. Saya menunggu agak lama untuk mengakses detik.com, mungkin banyak orang mencari informasi melalui situs berita ini. Dan benar "Mbah Surip" telah meninggal dunia. Fenomenal,,,,,, itulah ungkapan yang tepat untuk "Mbah Surip", sampai situs berita pun susah diakses karena kematian beliau.

Sebelumnya saya juga mendengar berita kalau "Mbah Surip" paling tidak memperoleh milyaran rupiah dari "Ring Back Tone"(RBT) atas lagu "Tak Gendong" dengan perhitungan "Mbah Surip" sebagai pencipta dan penyanyinya. Kalau satu lagu Rp.600,- dikalikan jutaan orang yang mendownload Ring tone tersebut (RBT), ditaksir mencapai diatas 6 milyar rupiah, wow,,,,,,,,bahkan ketika saya mendengar "Mbah Surip"meninggal, hasil penjualan RBT tersebut sudah mencapai 80 milyar rupiah. Dengan margin 60 : 40 (60 untuk "Mbah Surip) maka ditaksir 'Mbah surip memperoleh pendapatan 35 milyar,,,,,,, sekali lagi luar biasa. Saya juga mendengar kalau "Mbah Surip" lebih suka naik motor kalau bepergian dari pada naik mobil, mobil kepunyaannya suzuki APV sangat jarang dipergunakannya dan berita terakhir yang saya dengar, "Mbah Surip" sudah dibelikan rumah oleh produsernya.

Dari berita juga saya ketahui kalau lagu "Tak Gendong - Mbah Surip" sebenarnya sudah lama diciptakan. Lagu tersebut diciptakan di Amerika Serikat sekitar tahun 2003 dan dinyanyikan beliau, tapi karena ditolak para produser, maka lagu tersebut terus digendong-digendong "Mbah Surip", sampai akhirnya menemukan momentum kejenuhan masyarakat akan tayangan-tayangan Televisi. Dimana setiap hari televisi kita disuguhi adegan debat politik, debat Tim sukses, dan acara politik lainnya, yang menurut saya itu adalah tayangan cakar-cakaran politik, begitu juga tayangan sinetron yang hanya mengejar rating tanpa mampu menampilkan sisi education. Bila sinetron sukses secara rating, maka dilanjutkan dengan episode-episode selanjutnya. Sehingga satu tayangan sinetron bisa mencapai episode ratusan,,,,,,,Dan hampir semua stasiun televisi saling mengekor atas suksesnya suatu acara. Menonton televisi,,,,,memuakkan.

Munculnya "Mbah Surip" mampu menggeser rasa memuakkan itu menjadi rasa "Tak Gendong", sampai anak saya Boy Christian yang berumur 7 tahun 6 bulan minta supaya lagu tersebut didownload di MP3 player supaya bisa didengarnya berulang-ulang, juga minta didownload di HP saya dan mamanya. Mbah Surip sangat digemari belakangan ini, terlepas apakah lagunya, ketawanya, penampilan berikut rambut gimbalnya atau kesederhanaannya yang bernilai pasar/komersil. Bagiku yang penting Mbah Surip lebih menarik dari para politikus yang seperti tikus itu.

Selamat jalan "Mbah Surip" kau mengilhami banyak orang. Dengan terus berusaha keberhasilan maupun kesuksesan akan mendatangi kita, bahkan mengejar kita seperti yang kau alami sebelum kepergianmu. Suksesmu bukanlah hanya milikmu tapi milik banyak orang. Kalau tidak ada perubahan saya dengar tadi stasiun televisi RCTI akan menayangkan proses pemakaman "Mbah Surip" - "Selamat jalan Mbah Surip".
Foto : detikfoto.com

udutna......

DERITA PENGGUNA JALAN

Bila kita melewati jalan raya Serang selepas pintu tol Bitung Jakarta-Merak, kita langsung dihadang jalanan yang sangat macet. ya,,,,macet karena adanya betonisasi yang belakangan ini banyak dilakukan terhadap jalan-jalan di Jabodetabek, begitu juga Tangerang. Dari semula dua lajur menuju Balaraja dan dua lajur arah sebaliknya, kini hanya tersisa satu lajur begitu juga sebaliknya.

Begitu juga kalau kita menuju arah Tangerang kota dari arah Cikupa, selepas pertigaan Curug jalan penghubung tersebut sebenarnya sudah dapat dikatakan mulus karena sudah dilakukan pengaspalan ulang beberapa bulan sebelumnya, tetapi disayangkan adanya penggalian sisi jalan untuk jaringan serat optik. Jalan yang sudah mulus digali lagi untuk keperluan pihak lain, tentu untuk kepentingan yang berbeda-beda. Pemerintah kota maupun kabupaten sebagai pemegang otoritas pembangunan maupun antar instansi bekerja masing-masing, tanpa ada koordinasi.

Jalan raya serang merupakan jalan penghubung antar kabupaten dan Kota tangerang dari arah Serang menuju kota Tangerang dan sebaliknya, dimana disepanjang jalan tersebut berdiri industri-industri padat karya. Kepadatan pengguna jalan akan semakin parah pada pagi hari dan sore hari. Tetapi sekarang ini kemacetan sudah tidak mengenal waktu lagi. Sebagai masyarakat dan pengguna jalan kita tentu merasa gembira adanya betonisasi tersebut, tetapi pelaksanaan yang begitu lama dan terkesan seadanya menjadi suatu siksaan yang sangat berat. Perasaan dongkol dan tersiksa semakin memuncak karena jalan alternatif yang biasanya menjadi pilihan para bikers pun tidak lepas dari kemacetan parah, akibatnya dimana-dimana terjadi stagnan arus jalan. Lama perjalanan yang biasanya 30 menit menjadi 1.5 jam. Bisa dibayangkan berapa kerugian yang terhisap kemacetan ini, produktifitas yang menurun, rasa jengkel yang kalau tidak pintar-pintar mengelolanya bisa menjadi stres. Tidak jarang terjadi benturan sesama pengguna jalan yang saling serobot karena ingin lebih dahulu dari yang lainnya dengan derajat kepentingannya masing-masing, sering mengakibatkan sampai perkelahian fisik, saling umpat dan saling membenarkan diri sendiri.

Kepada masyarakat pengguna jalan dianjurkan untuk tidak melewati jalan ini, upsss,,,lalu lewat jalan mana?. Pengguna kendaraan roda empat memang bisa lewat jalan Tol Bitung-Merak meskipun tidak lepas dari kemacetan menjelang pintu tol Kedaton. Jalan tol Bitung-Merak khususnya menjelang pintu Tol Kedaton juga sedang pembetonisasi yang ke sekian puluh kalinya, ya,,,,,,,kesekian puluh kalinya. Karena sepengetahuan saya jalan Tol ini tidak pernah lepas dari tambal sulam, dengan pembenaran argumen struktur tanah yang labil. Ah,,,,,,,inilah kita, inilah ahli-ahli kita, inilah mental kita, dan inilah Bangsa Indonesia. Selalu ada jawaban pembenaran setiap masalah.

Para manejer personalia diharapkan kebijakan/toleransinya atas situasi ini, keterlambatan karyawan bukan kehendak kami tetapi kehendak penguasa. Bersabar, berdoa harus kita lipat gandakan bila perlu kita empat gandakan bila kita masih ingin hidup di tanah Indonesia ini. Kita mengeluh, mengumpat atau apapun namanya akan sia-sia. Lebih baik kita sampaikan kepada Tuhan agar Tuhan tidak memperpanjang jabatan para pejabat yang suka menumpuk kesenangan dengan memberi sengsara masyarakat, bila perlu kita ramai-ramai mendatangi Tuhan agar Tuhan bersedia memimpin negara ini, tapi apa Tuhan mau ya?,,,,,,,,,,,,,

udutna......

31 Jul 2009

HADIAH SEKOLAH MINGGU

Minggu tanggal 19 juli kemarin adalah saat yang ditunggu-tunggu anak kami Boy Christian Siahaan, karena pada saat itu sekolah Minggu ditempat dia beribadah (begitu Boy menyebutkan kalau pergi kegereja) akan membagikan hadiah kepada anak-anak sekolah Minggu yang berprestasi disekolahnya masing-masing

Tolak ukur prestasi yang ditetapkan pihak Gereja terhadap anak-anak itu adalah nilai rata-rata 8 atau juara 1. Begitu gembiranya anak kami Boy sehingga dia tidak mau menyerahkan hadiah tersebut kepada saya, meskipun sekedar melihat. Akhirnya dia memperlihatkan juga kepada saya setelah lama membujuknya. Hadiah tersebut berupa amplop putih. Setelah dibuka ada uang selembar bernilai Rp.100.000,-. Mungkin bagi anak-anak tersebut bukan besar kecil hadiahnya yang menjadi kegembiraan, tetapi dapat hadiah,,,,,,karena bayak anak-anak yang tidak mendapatkannya. Saya berpikir akan lebih baik kalau hadiah tersebut bukan berupa uang tetapi perlengkapan sekolah seperti buku tulis, pensil, pulpen, penggaris, penghapus dll. Bahkan bisa juga disertai selembar kertas berupa piagam, sehingga akan menjadi pengingat bagi sianak apabila prestasi akademiknya menurun.

Hadiah berbentuk uang akan mengajarkan anak-anak konsumtif, bahkan anak tersebut merasa uang hadiah tersebut adalah haknya, jadi tidak perlu meminta ijin kepada orang tuanya untuk menggunakan atau membelanjakannya. Jadi secara tidak langsung kita telah mendidik sianak untuk konsumtif, tidak turut/hormat kepada orang tua karena telah mendebat kita sebagai orang tua akan penggunaan hadiah uang tersebut. Sebagai lembaga yang membangun rohani umat (Gereja) seyogianya responsif terhadap tumbuh kembang anak-anak sekolah Minggu. Kapan lagi sekolah Minggu kasih hadiah?, begitu kira-kira yang mengisi benak anak-anak itu. Ya,,,,,,,,Hadiah memang membanggakan. Bukan hanya bagi sianak tetapi juga orang tuanya.

udutna......

SUNGKUN-SUNGKUN TARINGOT SURUNG-SURUNG

Molo masa ma sada ulaon isarana malua (sidi), tardidi poso-poso jala naginokkon sahat tu hula-hula dohot Tulang

Nipaihut-ihut angka ulaon "Silas ni roha" sisongonon adong do mardalan ruhut-ruhut ni adat Batak ima "Tudu-tudu sipanganon dohot Dengke simudur-mudur". Dung sidung marsipanganon sai adong do sungkun-sungkun sian horong ni Hula-hula taringot "tudu-tudu sipanganon" naung nijalo na sian parboruon na. Jala jot-jot do nibege alus ni suhut mandok "Surung-surung muna do i Rajanami".

Nilapatan hata "surung-surung i" na gabe "hak" ni horong ni hula-hula/Tulang ma i, artina horong nihula-hula/Tulang ma namarbagihon i. Molo na songoni do, dang adong jambar tu Raja ni dongan sahuta, Raja ni dongan tubu dohot Raja ni boru. Alai hea muse nijaha molo ulaon "Las ni roha" sisongoni "Ihur-ihur" hot ma i di hasuhuton, nilapatan muse "Ihur-ihur" tinggal mai di Suhut jala ima sibagion na tu angka dongan tubu na. Molo sisongoni "Tudu-tudu ni sipanganon i" dang surung-surung ni hula-hula/Tulang be, nunga gabe jambar taripar.

Ulaon di Jabu sisongonon do na jot-jot niadopan diparserahan on, naeng ma nian mardalan denggan ulaon i molo niantusan ruhut-ruhut ni ulaon i. Mardalan pe "tudu-tudu sipanganon dohot dengke simudur-udur" ima na patuduhon las ni roha jala dalan pasangaphon hula-hula/Tulang dohto patuduhon holong tu boruna. Antong molo masa ulaon sisongoni, ro sungkun -sungkun ni hula-hula/Tulang taringot tudu-tudu ni sipanganon naung nipasahat parboruonna tu nasida, aha do alus ni paidua ni hasuhuton?. Surung-surung do manang "Nunga hupasahat hami tu hamu rajanami, asa hamu ma namangaturhon, manghobasi pe hami?

Tu angka dongan, asa tuturi jala bahen hamu pangajarion tu iba nahurang pangantusion diulaon habatahon. Asa molo niulahon pe dang manimbil sian naniulahon angka dongan, jala unang adong namasipaurakhon

udutna......

27 Jul 2009

ULOS SAPUT NA HUMALAPUT

Dinahurang parbinotoan niba diparadaton niulahon ma pasahat ulos saput tu sada ina namonding (sari matua), alai maralo do tu panghilalaan niba napasahathon i. Asa songon na boi angka dongan umbotosa jala mangido panuturian iba, nipatorang ma jolo di namangulahon pasahat ulos saput i

Sabtu, 25 Juli 2009. Sahat barita melalui celluler sian dongan tubu na paboahon adong sada Ina naung marujung ngolu. Ditelepon i sinungkun ma dongan tubu on "ise do haroa Ina i?". "Au pe dang hutanda, ai tu au pe barita do!". Anggo so binoto do, jala dang ruas ni punguanta, ba,,,,,dang adong tanggung jawabta disi, "ningon mangalusi". Alai boru Siahaan do daba, "inna dongan tubu on muse". "Olo,,,boru Siahaan dia?", "songonon ma i, sungku ma jo boru Siahaan dia, dungi telepon ma au muse, "ima alus hu laos manutup telepon i". Pendek ni hata, borhat ma iba songon namaningkir jo, hape dipardalanan manghuling muse celluler napaboahon asa unang be ro tujabuna, alai tugareja ma, ai nunga diboan tugareja "inna dongan tubu namanelepon i". Sahat ma tu gareja, nunga adong piga-piga angka jolma songon namanghata-hatai.

Haluar ma par Bapa tua on si bagas gareja i,,laos didapothon ma iba, tuani ma nga roho ba, jala intor didapothon ma angka ama namanghata-hatai i jala didok ma "tu katua nami ma hamu manghatai lae" Horas lae,,,,horas ningon mangalusi. "Songonon do lae, Hamu do pasahathon ulos saput tu Ina namonding on, jala sonari do pasahaton muna, suadong be tingki",,,,,inna songon na humalaput dinamandok hatana i. "Santabi jo lae, ise do hamu?" jala dia do hasuhuton?. "Hami sian dongan parsahutaon do lae, jala dang adong hasuhuton dison". "Nasotarbereng nami do bangke ni Inang on di huta, so dilean naumpuna kontrakan i bangke ni Inang on asa tu jabu i". Ai haji do naumpunasa, "inna muse".

Dipanghataion i niboto ma, ia Inang naung jumolo on marjabu dijoloni helana (marga Saragi/br.Simanjuntak). Jala helana on dang mandohoti punguan parsahutaon, dang mandohoti punguan dongan tubuna, suang songoni punguan nihula-hulana manang punguan dia pe. Ditingki ngoluna marhamulian ma Inang on tu Marga Simanjuntak. Ala dang ganjang umur ni Amanta i (Simanjuntak), marhamulian ma muse Inang on tu marga Manullang. Sian hatorangan nabinege, amanta Simanullang i mangolu dope alai dang diboto manang didia, haroa dibagasan hahurang dengganon do parsaripeon nasida "Sari matua ma status ni Inang on".

On ma bahen hamu ulos tu Inang i, "inna angka dongan na disi". Borat do pangkilalan manjalo ulos i, nunga dibagasan gareja jala nunga dibagasan poti hape pasahaton ma muse saput?. Leleng do iba songon namarsidalian asa unang pola pasahaton be ulos saput. Nungnga hurang tingkos be pangkilalan pasahatton saput sisongoni, sai songon na manegai adat do iba diangka sisongonon. Ala marbatas do tong tingki dilehon pargareja, jom 14.00 manang pukul 2.00 ingkon boanon do langsung tu udean, jala nungnga sai mandosak angka sitorop, "simbolis doi lae". Pasahat hamu ma "inna sitorop", gabe nioloan ma napasahat ulos Saput i. Ulos sipasahaton pe, dang suman tu namargoar "Saput". Beha do on. Dung nipasahat saput i, hira-hira 5 menit nari ro ma muse namanaruhon Ulos asa niganti inna ulos saput i, ah tutu,,,,,,,harhar do niulahon. Ni ampehon ma muse ulos i tu ulos naung niampehon naparjolo i. So binoto manghatahon be,,,,,,,!

Andorang so diboan tu udean, didok ma muse tu hami asa diudean ma annon mandok mauliate tu hami hula-hulana,,,,,,,,,,,,,,,,Molo na binoto nian, dongan tubu ni hasuhuton mandok mauliate tu angka sitorop namandohoti sahat tu udean, alai anggo tu hula-hula naingkon panakhononna dope tu jabu,,,,,,ah tutu parir nai. logo ni ari do nian saonari,,,,,hape apala tingkion ro udan mansai gogo,,,,,dang dohot be hami antong tu udean,,,,naung sahat ma i, "ningon nama". Tu hamu angka dongan,,,,,bahen hamu pandapot manang hata panuturion diangka ulaon sisongonon. Marboha bahenon ma rajanami, Holong i ma patuduhon hamu tu boru muna on. Ah,,,,,,,,,"Molo suhar bulu disarat dongan, ba ingkon suhar do i saraton",,,,,, Ulaon aha do songonon?,,,,,,dangol nai!!!!

udutna......