Untuk arisan Ompu Mora bulan September dilaksanakan di rumah abang W. Siahaan/Br.Simanjuntak, alamat Duren Jaya, jln.Delima Raya No.217 Duren Jaya Bekasi
Pemberitahuan ini sekaligus undangan kepada pomparan Ompu Mora baik boru maupun bere yang berdomisili di Jabodetabek. Diharapkan kehadirannya tepat waktu Pkl.14.00 WIBB. Arisan dilaksanakan sebagai temu kangen, membicarakan hal mengenai Ompu Mora, sekaligus sharing mengenai adat istiadat khususnya terhadap pomparan Ompu Mora.
12 Aug 2009
ARISAN OMPU MORA BULAN SEPTEMBER
4 Aug 2009
BATAK SIGNIFIKAN
Sering saya mendengar orang Batak mengatakan "oh, kalau omong batak aku tidak bisa lagi, soalnya dari kecil sudah di jakarta". Apakah itu kesombongan atau keprihatinan, hanya yang orang tersebut yang tau.
Tetapi saya agak kaget juga ternyata banyak dari mereka yang mengatakan tidak bisa lagi bertutur bahasa batak, namun mengikuti kebaktian hari Minggu di HKBP, suatu gereja suku (Batak) yang tata pelaksanaa ibadahnya secara tutur Batak. lha,,,,apakah bisa mengerti bahasa Batak tetapi tidak tau melafalkannya. Aneh juga kalau begitu. Banyak pula yang saya tau orang Batak yang tidak mencantumkan marganya dibelakang namanya, pernah saya tanya orang Batak yang tidak mencantumkan marga dibelakang namanya. Jawabannya sungguh memprihatinkan, "jaman gini marga tidak signifikan untuk jati diri lae", kompetensi seseorang tidak dipengaruhi marganya, tetapi kemampuannya berkompetisi". Saya agak kaget juga mendengar penjelasannya. "Memangnya kalau kita cantumkan marga kita, lantas kita sudah bernilai plus?,,,tidak ada itu lae!, sambungnya lagi.
Dalam hati saya membenarkan juga pernyataan lae itu tadi, kalau bicara persaingan untuk berkompetisi dalam test mencari pekerjaan misalnya, maka identitas marga ataupun bahasa Batak memang tidak dibutuhkan. Tetapi saya kurang sependapat juga dengan lae itu tadi, yang menilai ke-Batakan secara sempit, hanya persaingan mencari pekerjaan, ke-Batakan yang tidak sesuai dengan jaman. Ah,,,,terlalu sempit pikiran seperti itu. Bagi saya setinggi apapun pendidikannya, sehebat apapun pekerjaannya,,,,tidak sepantasnya meminggirkan identitas kesukuan kita.
Ada pula orang Batak yang bergereja ke HKBP tetapi anak-anaknya ke gereja yang lain, alasannya karena kendala bahasa. Supaya anak-anak mengerti Firman Tuhan, kalau di HKBP anak-anak kan tidak mengerti bahasanya,,, lha,,, kan di HKBP kebaktian anak-anak bahasa Indonesia, pikirku. Wah,,,,angka sidalian nama on. Bagaimana mungkin si anak mengerti bahasa Batak, kalau sejak kecil tidak diarahkan. Memang ada anekdot yang mengatakan, "Batak kalau berpendidikan tinggi akan selalu menjadi musuh Batak, perempuan Batak kalau cantik selalu merasa bukan Batak. Angka ginjang roha nama i, ate.
Bersyukur aku orang Batak, karena Bangsoku adalah Bangso yang besar, yang mempunyai uhum Dalihan Natolu. Tanpa diajarkan dilembaga pendidikan pun setiap orang Batak tau bersosialisasi dengan kerabat, lingkungan sosialnya dan setiap orang Batak mengenal istilah "Marsolup dihundulan".
MBAH SURIP SI "TAK GENDONG"

Siapa yang tidak tau "Mbah Surip" penyanyi nyentrik berambut gimbal yang belakangan ini sering menghias layar televisi kita. Suara tertawa, ha...ha...ha...ha..."Mbah Surip" begitu familiar bagi semua kalangan, baik anak-anak, remaja maupun dewasa bahkan pejabat negara tanpa kenal gender. Luar biasa,,,Mbah Surip mampu mengalahkan tayangan-tayangan televisi yang memuakkan kita, seperti bahasan Pilpres, debat politik, maupun sinetron murahan.
Tapi hari ini Selasa 4 Agustus 2009 sekitar pukul 12.00 ini saya mendengar berita dari TV (RCTI) kalau "Mbah Surip" meninggal Dunia, kaget dan sedih mendengar berita tersebut. Seketika saya langsung buka situs berita tercepat detik.com sebagai pengantar berita tercepat. Saya menunggu agak lama untuk mengakses detik.com, mungkin banyak orang mencari informasi melalui situs berita ini. Dan benar "Mbah Surip" telah meninggal dunia. Fenomenal,,,,,, itulah ungkapan yang tepat untuk "Mbah Surip", sampai situs berita pun susah diakses karena kematian beliau.
Sebelumnya saya juga mendengar berita kalau "Mbah Surip" paling tidak memperoleh milyaran rupiah dari "Ring Back Tone"(RBT) atas lagu "Tak Gendong" dengan perhitungan "Mbah Surip" sebagai pencipta dan penyanyinya. Kalau satu lagu Rp.600,- dikalikan jutaan orang yang mendownload Ring tone tersebut (RBT), ditaksir mencapai diatas 6 milyar rupiah, wow,,,,,,,,bahkan ketika saya mendengar "Mbah Surip"meninggal, hasil penjualan RBT tersebut sudah mencapai 80 milyar rupiah. Dengan margin 60 : 40 (60 untuk "Mbah Surip) maka ditaksir 'Mbah surip memperoleh pendapatan 35 milyar,,,,,,, sekali lagi luar biasa. Saya juga mendengar kalau "Mbah Surip" lebih suka naik motor kalau bepergian dari pada naik mobil, mobil kepunyaannya suzuki APV sangat jarang dipergunakannya dan berita terakhir yang saya dengar, "Mbah Surip" sudah dibelikan rumah oleh produsernya.
Dari berita juga saya ketahui kalau lagu "Tak Gendong - Mbah Surip" sebenarnya sudah lama diciptakan. Lagu tersebut diciptakan di Amerika Serikat sekitar tahun 2003 dan dinyanyikan beliau, tapi karena ditolak para produser, maka lagu tersebut terus digendong-digendong "Mbah Surip", sampai akhirnya menemukan momentum kejenuhan masyarakat akan tayangan-tayangan Televisi. Dimana setiap hari televisi kita disuguhi adegan debat politik, debat Tim sukses, dan acara politik lainnya, yang menurut saya itu adalah tayangan cakar-cakaran politik, begitu juga tayangan sinetron yang hanya mengejar rating tanpa mampu menampilkan sisi education. Bila sinetron sukses secara rating, maka dilanjutkan dengan episode-episode selanjutnya. Sehingga satu tayangan sinetron bisa mencapai episode ratusan,,,,,,,Dan hampir semua stasiun televisi saling mengekor atas suksesnya suatu acara. Menonton televisi,,,,,memuakkan.
Munculnya "Mbah Surip" mampu menggeser rasa memuakkan itu menjadi rasa "Tak Gendong", sampai anak saya Boy Christian yang berumur 7 tahun 6 bulan minta supaya lagu tersebut didownload di MP3 player supaya bisa didengarnya berulang-ulang, juga minta didownload di HP saya dan mamanya. Mbah Surip sangat digemari belakangan ini, terlepas apakah lagunya, ketawanya, penampilan berikut rambut gimbalnya atau kesederhanaannya yang bernilai pasar/komersil. Bagiku yang penting Mbah Surip lebih menarik dari para politikus yang seperti tikus itu.
Selamat jalan "Mbah Surip" kau mengilhami banyak orang. Dengan terus berusaha keberhasilan maupun kesuksesan akan mendatangi kita, bahkan mengejar kita seperti yang kau alami sebelum kepergianmu. Suksesmu bukanlah hanya milikmu tapi milik banyak orang. Kalau tidak ada perubahan saya dengar tadi stasiun televisi RCTI akan menayangkan proses pemakaman "Mbah Surip" - "Selamat jalan Mbah Surip".
Foto : detikfoto.com
DERITA PENGGUNA JALAN
Bila kita melewati jalan raya Serang selepas pintu tol Bitung Jakarta-Merak, kita langsung dihadang jalanan yang sangat macet. ya,,,,macet karena adanya betonisasi yang belakangan ini banyak dilakukan terhadap jalan-jalan di Jabodetabek, begitu juga Tangerang. Dari semula dua lajur menuju Balaraja dan dua lajur arah sebaliknya, kini hanya tersisa satu lajur begitu juga sebaliknya.
Begitu juga kalau kita menuju arah Tangerang kota dari arah Cikupa, selepas pertigaan Curug jalan penghubung tersebut sebenarnya sudah dapat dikatakan mulus karena sudah dilakukan pengaspalan ulang beberapa bulan sebelumnya, tetapi disayangkan adanya penggalian sisi jalan untuk jaringan serat optik. Jalan yang sudah mulus digali lagi untuk keperluan pihak lain, tentu untuk kepentingan yang berbeda-beda. Pemerintah kota maupun kabupaten sebagai pemegang otoritas pembangunan maupun antar instansi bekerja masing-masing, tanpa ada koordinasi.
Jalan raya serang merupakan jalan penghubung antar kabupaten dan Kota tangerang dari arah Serang menuju kota Tangerang dan sebaliknya, dimana disepanjang jalan tersebut berdiri industri-industri padat karya. Kepadatan pengguna jalan akan semakin parah pada pagi hari dan sore hari. Tetapi sekarang ini kemacetan sudah tidak mengenal waktu lagi. Sebagai masyarakat dan pengguna jalan kita tentu merasa gembira adanya betonisasi tersebut, tetapi pelaksanaan yang begitu lama dan terkesan seadanya menjadi suatu siksaan yang sangat berat. Perasaan dongkol dan tersiksa semakin memuncak karena jalan alternatif yang biasanya menjadi pilihan para bikers pun tidak lepas dari kemacetan parah, akibatnya dimana-dimana terjadi stagnan arus jalan. Lama perjalanan yang biasanya 30 menit menjadi 1.5 jam. Bisa dibayangkan berapa kerugian yang terhisap kemacetan ini, produktifitas yang menurun, rasa jengkel yang kalau tidak pintar-pintar mengelolanya bisa menjadi stres. Tidak jarang terjadi benturan sesama pengguna jalan yang saling serobot karena ingin lebih dahulu dari yang lainnya dengan derajat kepentingannya masing-masing, sering mengakibatkan sampai perkelahian fisik, saling umpat dan saling membenarkan diri sendiri.
Kepada masyarakat pengguna jalan dianjurkan untuk tidak melewati jalan ini, upsss,,,lalu lewat jalan mana?. Pengguna kendaraan roda empat memang bisa lewat jalan Tol Bitung-Merak meskipun tidak lepas dari kemacetan menjelang pintu tol Kedaton. Jalan tol Bitung-Merak khususnya menjelang pintu Tol Kedaton juga sedang pembetonisasi yang ke sekian puluh kalinya, ya,,,,,,,kesekian puluh kalinya. Karena sepengetahuan saya jalan Tol ini tidak pernah lepas dari tambal sulam, dengan pembenaran argumen struktur tanah yang labil. Ah,,,,,,,inilah kita, inilah ahli-ahli kita, inilah mental kita, dan inilah Bangsa Indonesia. Selalu ada jawaban pembenaran setiap masalah.
Para manejer personalia diharapkan kebijakan/toleransinya atas situasi ini, keterlambatan karyawan bukan kehendak kami tetapi kehendak penguasa. Bersabar, berdoa harus kita lipat gandakan bila perlu kita empat gandakan bila kita masih ingin hidup di tanah Indonesia ini. Kita mengeluh, mengumpat atau apapun namanya akan sia-sia. Lebih baik kita sampaikan kepada Tuhan agar Tuhan tidak memperpanjang jabatan para pejabat yang suka menumpuk kesenangan dengan memberi sengsara masyarakat, bila perlu kita ramai-ramai mendatangi Tuhan agar Tuhan bersedia memimpin negara ini, tapi apa Tuhan mau ya?,,,,,,,,,,,,,
31 Jul 2009
HADIAH SEKOLAH MINGGU
Minggu tanggal 19 juli kemarin adalah saat yang ditunggu-tunggu anak kami Boy Christian Siahaan, karena pada saat itu sekolah Minggu ditempat dia beribadah (begitu Boy menyebutkan kalau pergi kegereja) akan membagikan hadiah kepada anak-anak sekolah Minggu yang berprestasi disekolahnya masing-masing
Tolak ukur prestasi yang ditetapkan pihak Gereja terhadap anak-anak itu adalah nilai rata-rata 8 atau juara 1. Begitu gembiranya anak kami Boy sehingga dia tidak mau menyerahkan hadiah tersebut kepada saya, meskipun sekedar melihat. Akhirnya dia memperlihatkan juga kepada saya setelah lama membujuknya. Hadiah tersebut berupa amplop putih. Setelah dibuka ada uang selembar bernilai Rp.100.000,-. Mungkin bagi anak-anak tersebut bukan besar kecil hadiahnya yang menjadi kegembiraan, tetapi dapat hadiah,,,,,,karena bayak anak-anak yang tidak mendapatkannya. Saya berpikir akan lebih baik kalau hadiah tersebut bukan berupa uang tetapi perlengkapan sekolah seperti buku tulis, pensil, pulpen, penggaris, penghapus dll. Bahkan bisa juga disertai selembar kertas berupa piagam, sehingga akan menjadi pengingat bagi sianak apabila prestasi akademiknya menurun.
Hadiah berbentuk uang akan mengajarkan anak-anak konsumtif, bahkan anak tersebut merasa uang hadiah tersebut adalah haknya, jadi tidak perlu meminta ijin kepada orang tuanya untuk menggunakan atau membelanjakannya. Jadi secara tidak langsung kita telah mendidik sianak untuk konsumtif, tidak turut/hormat kepada orang tua karena telah mendebat kita sebagai orang tua akan penggunaan hadiah uang tersebut. Sebagai lembaga yang membangun rohani umat (Gereja) seyogianya responsif terhadap tumbuh kembang anak-anak sekolah Minggu. Kapan lagi sekolah Minggu kasih hadiah?, begitu kira-kira yang mengisi benak anak-anak itu. Ya,,,,,,,,Hadiah memang membanggakan. Bukan hanya bagi sianak tetapi juga orang tuanya.
SUNGKUN-SUNGKUN TARINGOT SURUNG-SURUNG
Molo masa ma sada ulaon isarana malua (sidi), tardidi poso-poso jala naginokkon sahat tu hula-hula dohot Tulang
Nipaihut-ihut angka ulaon "Silas ni roha" sisongonon adong do mardalan ruhut-ruhut ni adat Batak ima "Tudu-tudu sipanganon dohot Dengke simudur-mudur". Dung sidung marsipanganon sai adong do sungkun-sungkun sian horong ni Hula-hula taringot "tudu-tudu sipanganon" naung nijalo na sian parboruon na. Jala jot-jot do nibege alus ni suhut mandok "Surung-surung muna do i Rajanami".
Nilapatan hata "surung-surung i" na gabe "hak" ni horong ni hula-hula/Tulang ma i, artina horong nihula-hula/Tulang ma namarbagihon i. Molo na songoni do, dang adong jambar tu Raja ni dongan sahuta, Raja ni dongan tubu dohot Raja ni boru. Alai hea muse nijaha molo ulaon "Las ni roha" sisongoni "Ihur-ihur" hot ma i di hasuhuton, nilapatan muse "Ihur-ihur" tinggal mai di Suhut jala ima sibagion na tu angka dongan tubu na. Molo sisongoni "Tudu-tudu ni sipanganon i" dang surung-surung ni hula-hula/Tulang be, nunga gabe jambar taripar.
Ulaon di Jabu sisongonon do na jot-jot niadopan diparserahan on, naeng ma nian mardalan denggan ulaon i molo niantusan ruhut-ruhut ni ulaon i. Mardalan pe "tudu-tudu sipanganon dohot dengke simudur-udur" ima na patuduhon las ni roha jala dalan pasangaphon hula-hula/Tulang dohto patuduhon holong tu boruna. Antong molo masa ulaon sisongoni, ro sungkun -sungkun ni hula-hula/Tulang taringot tudu-tudu ni sipanganon naung nipasahat parboruonna tu nasida, aha do alus ni paidua ni hasuhuton?. Surung-surung do manang "Nunga hupasahat hami tu hamu rajanami, asa hamu ma namangaturhon, manghobasi pe hami?
Tu angka dongan, asa tuturi jala bahen hamu pangajarion tu iba nahurang pangantusion diulaon habatahon. Asa molo niulahon pe dang manimbil sian naniulahon angka dongan, jala unang adong namasipaurakhon
27 Jul 2009
ULOS SAPUT NA HUMALAPUT
Dinahurang parbinotoan niba diparadaton niulahon ma pasahat ulos saput tu sada ina namonding (sari matua), alai maralo do tu panghilalaan niba napasahathon i. Asa songon na boi angka dongan umbotosa jala mangido panuturian iba, nipatorang ma jolo di namangulahon pasahat ulos saput i
Sabtu, 25 Juli 2009. Sahat barita melalui celluler sian dongan tubu na paboahon adong sada Ina naung marujung ngolu. Ditelepon i sinungkun ma dongan tubu on "ise do haroa Ina i?". "Au pe dang hutanda, ai tu au pe barita do!". Anggo so binoto do, jala dang ruas ni punguanta, ba,,,,,dang adong tanggung jawabta disi, "ningon mangalusi". Alai boru Siahaan do daba, "inna dongan tubu on muse". "Olo,,,boru Siahaan dia?", "songonon ma i, sungku ma jo boru Siahaan dia, dungi telepon ma au muse, "ima alus hu laos manutup telepon i". Pendek ni hata, borhat ma iba songon namaningkir jo, hape dipardalanan manghuling muse celluler napaboahon asa unang be ro tujabuna, alai tugareja ma, ai nunga diboan tugareja "inna dongan tubu namanelepon i". Sahat ma tu gareja, nunga adong piga-piga angka jolma songon namanghata-hatai.
Haluar ma par Bapa tua on si bagas gareja i,,laos didapothon ma iba, tuani ma nga roho ba, jala intor didapothon ma angka ama namanghata-hatai i jala didok ma "tu katua nami ma hamu manghatai lae" Horas lae,,,,horas ningon mangalusi. "Songonon do lae, Hamu do pasahathon ulos saput tu Ina namonding on, jala sonari do pasahaton muna, suadong be tingki",,,,,inna songon na humalaput dinamandok hatana i. "Santabi jo lae, ise do hamu?" jala dia do hasuhuton?. "Hami sian dongan parsahutaon do lae, jala dang adong hasuhuton dison". "Nasotarbereng nami do bangke ni Inang on di huta, so dilean naumpuna kontrakan i bangke ni Inang on asa tu jabu i". Ai haji do naumpunasa, "inna muse".
Dipanghataion i niboto ma, ia Inang naung jumolo on marjabu dijoloni helana (marga Saragi/br.Simanjuntak). Jala helana on dang mandohoti punguan parsahutaon, dang mandohoti punguan dongan tubuna, suang songoni punguan nihula-hulana manang punguan dia pe. Ditingki ngoluna marhamulian ma Inang on tu Marga Simanjuntak. Ala dang ganjang umur ni Amanta i (Simanjuntak), marhamulian ma muse Inang on tu marga Manullang. Sian hatorangan nabinege, amanta Simanullang i mangolu dope alai dang diboto manang didia, haroa dibagasan hahurang dengganon do parsaripeon nasida "Sari matua ma status ni Inang on".
On ma bahen hamu ulos tu Inang i, "inna angka dongan na disi". Borat do pangkilalan manjalo ulos i, nunga dibagasan gareja jala nunga dibagasan poti hape pasahaton ma muse saput?. Leleng do iba songon namarsidalian asa unang pola pasahaton be ulos saput. Nungnga hurang tingkos be pangkilalan pasahatton saput sisongoni, sai songon na manegai adat do iba diangka sisongonon. Ala marbatas do tong tingki dilehon pargareja, jom 14.00 manang pukul 2.00 ingkon boanon do langsung tu udean, jala nungnga sai mandosak angka sitorop, "simbolis doi lae". Pasahat hamu ma "inna sitorop", gabe nioloan ma napasahat ulos Saput i. Ulos sipasahaton pe, dang suman tu namargoar "Saput". Beha do on. Dung nipasahat saput i, hira-hira 5 menit nari ro ma muse namanaruhon Ulos asa niganti inna ulos saput i, ah tutu,,,,,,,harhar do niulahon. Ni ampehon ma muse ulos i tu ulos naung niampehon naparjolo i. So binoto manghatahon be,,,,,,,!
Andorang so diboan tu udean, didok ma muse tu hami asa diudean ma annon mandok mauliate tu hami hula-hulana,,,,,,,,,,,,,,,,Molo na binoto nian, dongan tubu ni hasuhuton mandok mauliate tu angka sitorop namandohoti sahat tu udean, alai anggo tu hula-hula naingkon panakhononna dope tu jabu,,,,,,ah tutu parir nai. logo ni ari do nian saonari,,,,,hape apala tingkion ro udan mansai gogo,,,,,dang dohot be hami antong tu udean,,,,naung sahat ma i, "ningon nama". Tu hamu angka dongan,,,,,bahen hamu pandapot manang hata panuturion diangka ulaon sisongonon. Marboha bahenon ma rajanami, Holong i ma patuduhon hamu tu boru muna on. Ah,,,,,,,,,"Molo suhar bulu disarat dongan, ba ingkon suhar do i saraton",,,,,, Ulaon aha do songonon?,,,,,,dangol nai!!!!
23 Jul 2009
MARSIAJAR MARHATA SINAMOT DIULAON UNJUK
Molo niparate-atehon angka panghataion naung nidohotan diangka ulaon unjuk dijabodetabok on hira-hira sarupa do angka panghataion i. Molo pe antar muba saotik panghataion i namamereng partingkian nama i, jala naung sian dos ni roha angka raja parhata do
Alai anggo rumang/ruhut-ruhut ni panghataion hira sarupa do. Dison nisurathon ma saotik rumang ni panghataion di pesta/ulaon unjuk. Dung hira dapot tingki jala nunga ro be angka naniontang tarlumobi angka horong ni hula-hula (Ulaon alap jual). Parjolo do parboru manjou horong ni hula-hula/Tulang.Jala antar songonon ma nibege panggorana
Protokol ni parboru :
Dihamu nahuparsangapi hami rajani hula-hula dohot tulang nami dang namangorui disangap muna rajanami, alai namangait tingki do hita, asa sahali manjanghon ma hami nian diharoromuna. Hula-hula nami raja,,,,,,Tulang raja,,,,,,tulang rorobot raja,,,,bona tulang raja,,,,,,bona niari raja,,,,,,hula-hula namarhaha maranggi raja,,,,,hula-hula anak manjae raja,,,,,,,masuk ma hamu raja nami.(Nunga dipangido hian asa diparmasuk ni horong ni hula-hula/tulang diparade parmusik musik nahombar tusi)
Ditingki namasuk i horong ni hula-hula dohot tulang, aktif do protokol mandok "Rajanami" nunga huparade hami hundulan muna ima disiamun nami, "hundul ma hamu raja nami". Jala boru ni parboru ma napatuduhon hundulan ni hula-hula dohot tulang i
Catatan :Molo ulaon diparanak (taruhon jual) paranak ma parjolo manggora hula-hulana dohot tulang asa masuk tu gedung (sarupa do hata-hatana)
Dungi dipasahat protokol ni parboru ma tu paranak, "songonon ma hata-hatana", "Amang boru", ala nunga sikkop masuk raja ni hula-hula nami dohot tulang nami nuaeng pe hupasahat hami tu hamu. Digorahon paranak ma muse hula-hula dohot tulangna (sarupa do hata-hatana)
Pasahat tudu-tudu sipanganon dohot dengke simudur-udur,,,,,,,,,,
Marsipanganon jala ditingki namangan i do ro paranak pasahat sulang-sulang na tabo tu parboru,,,,,,,,,,,,,
Mambagi parjambaran juhut,,,,,,,,,,,,,,
Paranak mangido tingki asa manjalo tumpak,,,,,,,,,,,,,,
Marhata sinamot
Dung hira sidung sude asa naeng mamungka panghataion ma angka raja parhata, jala nunga marsipasangapan namarhaha-maranggi, namarboru, namardongan sahuta, ale-ale tarlumobi hula-hula dohot tulangna, dipungka ma panghataion (isarana nunga langsung tu raja parsinabung)
Parsinabung ni parboru :
Horas ma jala gabe amang boru. ia didok situa-tua "Dolok sipakpahi panatapan tu sibuluan, asa tapungka manghatai pasahat hamu ma jolo pinggan panungkunan". Sipata diulaon marga naasing di dok "Binsar mata ni ari, rondang mata ni bulan. Asa tamulai manghatai pasahat hamu ma jolo pinggan panungkunan"
Parsinabung ni paranak :
Horas jala gabe. "Ia binsar songon mataniari, marsinondang songon bulan. Ba nunga manggora raja ni hula-hula laho mamungka manghatai ba pasahatonnami ma pinggan panungkunan". Di jou boruna laho pasahathon tu parhata ni parboru. Diulaon marga na asing nibege pandohan na asing muse "Baris-baris gaja dirura pangaloan, molo marsuru raja ingkon do oloan"
Parsinabung ni parboru :
Nunga hujalo hami pinggan panungkunan, pinggan sitio soara asa tio marsuara. Pinggan pasu na hot dihundulanna, sai hot ma pasu-pasi ni Tuhanta di hita. Adong muse peak diatasna napuran sirata bulung sipalas roha ni inanta soripada/ boru ni raja, ba sai rata ma antong panggabean parhorasan dapotonta tu joloan on
Adong muse boras sipir ni tondi, parbue siribur-ibur. Sai anggiat ma torop maribur pinomparta huhut matangkang majuara, asa
Pirma pongki, bahul-bahul pansalongan
Pirma tondi, sai tu tambana pansamotan
Dison muse ringgit sitio soara/ rupia namararga, homitan ni boru ni raja, sipatamba sipalas rohanta diloloan bolonon. (dibuat parsinabung parboru i ma 3 lembar hepeng i, jala dilehon salembar tusiamunna, salembar nai tu hambirangna, salembar disangkuhon ibana ma.
Amang boru, Nunga hujalo hami pinggan panungkunan on, asa songon hata ni situa-tua ma :
"Nibutbut duhut-duhut laos mangihut dohot halosi, Ala nunga nijalo pinggan panungkunan, hupasahat hami ma muse pinggan pangalusi". Digorahon ma boruna lao pasahathon pinggan panungkunan i tu parhata ni paranak na gabe pinggan pangalusi.
Amang boru, Nunga simpul hita mangan indahan na las nihabosurhon, huhut marlompan natabo nihasagathon huhut minum aek sitio-tio. Sai tio ma antong angka parsaulian dohot pansamotan tu joloan on tumpahon Amanta Pardenggan Basa i. Asa dohonon nami ma "bagot namarhalto niagatan dirobean, horas ma dihami namanganhon, horas dihamu namangalean".
Ia manungkun ma hami nuaeng amang boru "dia do nangkatna, dia do ultopna - dia do hatana, dia nidokna" asa dipaboa amang boru ma.
Parsinabung ni paranak :
Horas ma jala gabe raja nami. "Tangan do botohon, ujung na jari-jari, jari-jari sampulu sude doi marpanggoari, andorang so ni dok hata sidohonon, parjolo ma hami marsantabi".
Songon ni dok ni rajai tutu, sai tio ma antong angka pansamotan dohot parsaulian tu joloan on, taringot sipanganon na so sadia i raja nami, dohonon nami dope "godang sibutong-butong, otik sipir ni tondi - tung so sadia pe sipanganon na huparade hami rajanami, sai pamurnas mai tu daging, saudara tu bohi, sipasindak panaili ma i, sipaneang holi-holi jala sipadomu tahi". "Hinarat pangkal ni tobu lam tu tonggina - dang namangholit hami rajanami, tung sibahenon do na so sadia". Molo pe namangholit hami rajanami, ala ni tangiang muna tu Amanta Debata sai tu tambana na niholit, asa adong patupaon nami laho pasangaphon hamu tu ari nanaeng ro. "Asa bagot namarhalto ma natubu di robean, horas ma hamu rajanami namanganhon, horas ma hami napatupahon".
Asa alusan nami ma sungkun-sungkun ni rajai, panggabean parhorasan do nidokna,,botima rajanami
Parsinabung ni parboru :
Hora ma jala gabe di alus muna amang boru, parhorasan panggabean do hape na nidokna, maulitema ta dok tu Amanta Pardenggan Basa i. Alai amang boru "marangkup do nauli, mardongan nadenggan, asa siangkupna songon nahundul, siudur songon na mardalan". Disiangkup ni parhorasan panggabean amang boru, namanungkun jala na manangkasi ma hami amang boru.
"Asa tangkas ma uju purba, tangkasan uju angkola
Asa tangkas ma hita maduma, tangkasan hita mamora
Asa tangkas ma dipaboa amang boru, botima da amang boru
Parsinabung ni paranak :
Ima da rajanami, nunga dipadua hali raja i manungkun. Alai las situtu do roha nami disungku-sungkun ni raja i. Tutu ma hamu "Sisuan bulu jala panjala, siboto uhum do hamu jala angka anak ni raja". Songon ni dokmuna i raja nami, "Asa tangkas ma purba, tangkasan ma angkola, asa tangkas ma hita maduma, tangkasan hita mamora". Paboaon nami ma raja nami angkup ni parhorasan panggabean i.
Didok situa-tua :"Denggan ma bulu godang, denggan bahen hite-hite - Molo adong anak manang boru magodang, denggan ma asa hoti ripe". Asa tubuan laklak tubuan sikkoru, tubu sanggar diparsopoan - Asa tubu dinasida anak dohot boru jala jengkar-jengkar dihangoluan
Diari nasalpui nunga ro hami manomba hamu raja nami jala nunga satahi satolop hita diangka sangkap ni anakhonta asa hot ripe. Jala nangkin nunga rap mangudurhon hita tu bagas joro Nai asa manjalo pasu-pasu parbagason marhite naposo ni Tuhanta. Asa saonari raja nami, molo sian elek-elek pangidoan nami tu hamu, namanungkun somba ni adat somba ni uhum marhite-hite sinamot ni boru ni rajai. Asa mangido ma hami nian raja nami diharadeon ni rohamu asa tauduti ma nian ulaonta 'NAMARHATA SINAMOT". Ima elek-elek pangidoan nami rajanami.
Parsinabung ni Parboru
Toho do na nidok muna i amang boru, "Denggan bulu godang denggan bahen hite-hite-Molo dung magodang anak manang boru, denggan ma asa hot ripe". Didok hamu asa tauduti ulaonta namarhata sinamot, mauliate ma di hamu amang boru. Tanda do hamu "Sisuan bulu jala panjala - siboto uhum do hamu jala angka namora". "Ai nunga pitu lilinami, paualu jogianami-nunga uli nipi nami, adong ma hamu pandurungan nami". "Ai pat ni gaja tu pat ni hora-Angka pomparan ni raja do hamu jala namamora". Dibahen i pasahat hamu sinamot mansai godang. Botima hata nami amang boru
Parsinabung ni Paranak :
Mauliate ma rajanami "Pat ni gaja, tu pat ni hora - Rap angka anak ni raja do hita, naburju marroha". Dang imbulu nasinuanhon, manang huling-huling nilangkophon be hami tu hamu rajanami. Naung boru muna hian do hami sian angka ompung nami. Songon hata ni natua-tua raja nami "Urat ni singkoru dihunghupi bulung bira, anggo haburjuon ni hamu raja,,,,,,nga tarbarita ro didia". Namangingot i do rajanami ibanna barani hami ro tuadopanmu, Ai ida-ida do nabutong, jora-jora namale. Namarsomba ma hami tu hamu rajanami taringot sinamot ni parumaen nami. Jala tar songonon ma nian elek-elek pangidoan nami,asa sisahali manombahon ma hami di somba ni adat somba nu uhum digodang ni sinamot parumaen nami sipasahotan nami tu hamu hula-hulanami. Songonima elek-elek somba pangidoan nami rajanami.
Parsinabung ni parboru :
Maulite ma amang boru, Pangidoanmu asa sisahali mangelekhon sahali manombahon hamu di somba ni uhum somba ni adat dohot godang ni sinamot. Anggo au sandiri tangkas do hutanda hamu naburju marhula-hula. Alai amang boru asa haru tangkas dibege angka amanta raja dohot inanta soripada dipangidoanmu disomba ni uhum somba ni adat dohot di hata ni sinamot sipasahatonmu haru dipaboa amang boru ma.
Parsinabung ni Paranak :
Mauliatema rajanami jala malambok pusu nami. Tangkas ma tutu paboaonnami pangidoan nami tu jolo ni raja i di somba ni uhum somba ni adat dohot dihata nisinamot sipasahatonami.
Rajanami sipasahaton nami di hata ni sinamot "SITOMBOL" ma rajanami, Alap jual ma parumaen nami Jala Ulaon sadari. Songonima jolo elek-elek pangidoan nami rajanami.
Parsinabung ni Parboru :
Mauliate ma amang boru, hupasahat ma jo elek-elek pangidoanmunai tu hami namardongan tubu, raja ni boru, lumobi ma raja ni hula-hula nami.
Hata sian haha/anggi namardongan tubu parboru :
Mauliate ma di haha/anggi, molo pandapot sian hami, gabe jala horas ma
Hata sian boru/bere ni parboru :
Mauliatema di hamu hula-hula nami, dipatama hamu do hami boru muna. Molo sian hami boru dohot bere muna, gabe jala horas ma jala sisada hata ma hami. botima!
Dungi dipasahat parsinabung ni parboru ma muse tu hula-hula dohot tulang ima hata mangido panuturion, hira-hira songonon ma hatana :
Dihamu hula-hulanami Rajai,,,,,Tulang nami raja,,,,,Tulang rorobot, Raja,,,,,,Bona Tulang, raja,,,,,,,,Hula-hula namarhaha-maranggi, raja,,,,,,,,,,,Hula-hula anak manjae, raja,,,,,,,,Nunga rapa umbege hita rajanami dihata pangidoan pamoruon nami di somba ni uhum somba ni adat dohot di hata nisinamot ni borunami ima bere muna sipasahaton ni nasida tu hita asa sahali mangelekhon sahali manombahon. Andorang so hualusi hami pangidoan ni pamoruon nami jala asa pos roha rajanami, mangido ma hami dihata panuturion sian hamu saluhutna hula-hula nami dohot tulang nami. Didok situa-tua, "Dijolo hamu siaduaon, dipudi hamu sipaimaon, ditonga hamu sihaliangan. Sihorus nasuksuk do hamu, sigohi nalonga. Hupasahat hami ma panghataion on tu hamu rajanami.
Laos digora boruna asa dipasahat microphone tu hula-hulana dohot tulang
Hata sian hula-hula dohot Tulang :
Mauliate ma di hamu pamoruon nami, nuaeng pe tu hita horong ni hula-hula, Tulang Raja,,,,Tulang rorobot, raja,,,,,,Bona Tulang, raja,,,,,hula-hula namarhaha-maranggi, raja,,,,,hula-hula anak manjae, raja,,,,,mangido panuturion raja ni pamoruonta tu hita, ise ma hita namangalusi?,,,,biasana totap do hula-hula napasahat panuturion i, alai jolo masipasangapan halahi nasahundulan. Tarsongonon ma hata ni hula-hula i :
Horas ma jala gabe di hamu raja ni borunami, taringot di hata pangidoan muna tu hami hula-hula dohot Tulang muna, nunga satahi hami, au ma mangalusi. Mansai las do rohanami umbege panghataion muna namarhula-hula marboru marsipaolo-oloan. Sian hami hula-hula dohot Tulang muna asa dohonon nami ma: "Balintang ma pagabe tumundalhon sitadoan, arimuna do gabe molo rap olo hamu masipaolo-oloan". Songo nima hata sian hami hula-hula dohot Tulang muna. Horasma jala gabe!
Parsinabung ni parboru pasahat mauliate tu hula-hula dohot Tulangna.
Parsinabung ni Parboru :
Songoni ma dihamu amang boru, nunga dibege hamu panghataion sian hami namardongan tubu, raja ni boru lumobi ma sian raja ni hula-hul dohot Tulang nami. Andorang so hualusi hami pangidoan muna iamang boru, asa dipatangkas amang boru ma somba ni uhum somba ni adat dohot godang ni sinamot ni borunami nanaeng sisombahonon muna tu hami, asa dibege amanta raja dohot inanta soripada naliat nalolo, songoni ma amang boru
Parsinabung ni paranak :
Horas ma jala gabe, ala dison do hami namardongan tubu, boru nami tarlumobi hula-hula nami lehon hamu ma jo tingki dihami asa manghatai hami rajanami. "Dialusi parsinabung ni parboru ma antong", Nauli amang boru!
Antar sarupa do hatai songon hata ni Dongan tubu ni parboru, boru/bere ni parboru, suang songoni hula-hula/Tulang ni parboru
Dungi dialusi paranak ma :
Parsinabung ni Paranak :
Rajanami, dinaung satahi saoloan hami namardongan tubu, marboru, lumobi hula-hula nami dipangidoan nami sahali mangelekhon sahali manombahon digodang ni sinamot sipasahaton nami. Antong rajanami, mangoloi pangidoan muna asa dohonon nami ma somba ni uhum somba ni adat dohot hata ni sinamot. Songonon ma pangidoan nami raja nami : Digodang ni sinamot, asa disi horbona, disi hodana, disi lombuna, disi mas dohot serena, alai pangidoan nami hupasada hami ma i gabe rupiah ni pamarettanta asa unang pola lola hamu raja nami. Ia sinamot nagok sipasahaton nami siTombol ma rajanami, alap jual ma parumaen nami jala ulaon sadari. Jala godang ni sinamot i rajanami sombahonon nami ma Rp,,,,,,,,,,,,,,,
Parsinabung ni Parboru :
Mauliate ma amang boru, Rp,,,,,,,,,,,ma sipasahaton muna, siTombol, alap jual jala ulaon sadari. Hugabehon hami mai amang boru, alai anggo jambar nagok, ima suhi ni ampang naopat dohot panandaion napasahaton muna dope ate amang boru
Parsinabung ni Paranak :
Nauli rajanami, pos rohamu. "Baris-baris ni gaja dirura pangaloan, molo marsuru raja ingkon do oloan. Songon dia pandok ni rajai huoloi hami mai rajanami.
Antar songoni ma panghataion namarhata sinamot nanipaihut-ihut molo ro iba mandohoti ulaon unjuk di gedung diJabodetabekon. Adong do angka variasi-variasi panghataion i hinorhon ni hamaloan ni angka raja parhata. Adong do alani malo ni parhata gabe suda tingki gabe molor ma tingki sahat tu bodari. Adong muse nibege, sai jolo manghatai do angka parhata ni parboru dohot paranak pasimpelhon ulaon i. Sude ma i tu dos niroha, "Aek godang tu aek laut - Dos ni roha sibahen na saut".
15 Jul 2009
ARISAN OMPU MORA
Hari Minggu kemarin 12 Juli 2009 arisan kumpulan Parsaompuan "Ompu Mora" kembali memasuki periode baru. Disebut periode baru karena periode sebelumnya telah berakhir. Dan yang menjadi tuan rumah untuk periode baru ini adalah Op.Joshua/Br.Aritonang (UKI-Cawang)
Dalam periode ini terjadi peningkatan jumlah anggota sekaligus mulai ada bergabung bere dalam kumpulan ini. Meskipun dari data-data masih banyak pomparan Op.Mora yang berdomisili diJabodetabek ini tidak/belum mau bergabung dengan alasan masing-masing. Terjadi pula perubahan siklus pelaksanaannya dari yang sebelumnya dua bulan sekali menjadi sebulan sekali. Saya tidak tahu apa dasar perubahan itu, dari penuturan tidak resmi saya menangkap adanya periode waktu yang terlalu lama untuk mendapat arisan tersebut,,,,,,hmmmm. Memang tidak hanya jumlah anggota, siklus tapi juga besarnya uang arisan mengalami perubahan. Semula Rp.50.000,-(lima puluh ribu rupiah) menjadi Rp.100.000,- (seratus ribu rupiah)
Bagi saya bukan Arisan, periode, atau Rupiah arisannya yang penting tapi membangun kebersamaan, saling menghormati dan dapat saling mengerti adalah hal dasar yang sangat dibutuhkan punguan Ompu Mora ini. Bagaimana menyelesaikan suatu perbedaan tanpa adanya perasaan dilecehkan. Bagaimana mengemukakan pendapat tanpa merasa lebih tahu. Saling mendengar diantara yang memberi pendapat. Karena memang disetiap pertemuan pomparan ompu Mora sangat sering terjadi debat kusir yang tidak menghasilkan manfaat yang signifikan terhadap perkembangan anggota maupun punguan itu sendiri. Intinya lebih banyak yang berbicara dari yang mendengar. Selalu saya perhatikan suatu putusan dihasilkan pada saat-saat terakhir, itupun karena waktu yang memaksa. Terkadang ketika putusan itu hendak dijalankan terjadi lagi perbedaan penafsiran. Lagi-lagi dibutuhkan perdebatan yang menyita energi dan waktu, tapi tampaknya bukan suatu kendala setidaknya saat ini,,,,,,karena dalam debat selalu ada stimulannya yaitu "tuak".
Saya selalu ingat pesan orang tua "Dang sae gogo ni suara paturehon angka parsalisihan, dos ni roha do pangasahonon. Juga "Hatahon ma natingkos dibagasan elek dohot serep niroha, unang hatahon mardongan muruk manang asup-asup". Sederhana tapi sangat berat pelaksanaannya. Penyebabnya tentu "ego". Pomparan Ompu Mora banyak memiliki ciri lahiriah yang seharusnya menjadi ciri pengikat bukan penghambat. Kita harus banyak belajar memahami, kita harus banyak menggunakan telinga. Terkadang sebagai mahluk sosial kita dihadapkan antara pikiran dan perasaan. Tetapi hubungan kakak-adik adalah hubungan darah. Ya.....darahlah pengikat kita.
Arisan Op. Mora berikutnya pada tanggal 9 Agustus 2009 di Rumah Op.Romauli/Br.Sianipar di perumnas Cengkareng. Bagi yang belum mengetahuinya perkenankan ini sebagai undangan
10 Jul 2009
POMPARAN OP. MORA DI JABODETABEK
POMPARAN NI OMPU MORA, BORU DOHOT BERE SEJABODETABEK ANAK BORU/BERE/IBEBERE OP. MULANA OP. GIMBA 1.OP. JITA 2.OP. MALLAMPU 1 A. Bery 1 H. Sitio/br. Siahaan 2 Indra Siahaan/br.Silalahi (A.Tirta) 2 Panggabean 3 Manik OP. ANDAN 1. OP.GALIA 1 Op. Ranto br. Tampubolon 1 R. Sinaga/br. Siahaan 2 D. Siahaan/br. Sitohang (A. Nando) 2 P. Pasaribu/br. Siahaan 3 P. Siahaan/br. Pandiangan 3 Sihombing/br.Tampubolon 4 B. Siahaan/br. Sinambela 4 Panjaitan/br.Sitohang 5 St. J. Siahaan/br. Aritonang (Op. Josua) 5 Siahaan/br.Tampubolon 6 Mervin Siahaan/br. Hutagalung (A.Geren) 6 Sitorus/br. Siahaan (A.Josua) 7 Ramses Siahaan/br. Siagian 7 Manullang/br. Siahaan (A. Tulus) 8 Rudolf Siahaan/br. Ambon 8 Nainggolan/br. Siahaan 9 Ranto Siahaan/br. Kalimantan 9 Nainggolan (Anting) 10 K. Siahaan/br. Sinaga (Op. Merdeka) 10 Nainggolan (Namboru) 11 L. Siahaan/br. Sinaga (A. Laura) 11 Simatupang/br. Siahaan (Op. Philip) 12 L. Siahaan/br. Simorangkir (A.Natalia) 12 Napitupulu/br. Siahaan (A.Poppy) 13 Ramli Siahaan/br.Betawi 13 Hutajulu/br. Siahaan 14 Siregar/br. Siahaan 15 Purba/br.Simatupang (bere) 16 Hutauruk/br.Simatupang (bere) 17 Hasibuan/br.Simatupang (bere) 18 Pasaribu/br.Simatupang (bere) 19 Panjaitan/br.simatupang (bere 20 Haloho/br.Sianipar (bere) OP. LANSAT NABEGU 1.OP. MANGALANJA 1 Ny.Siahaan Br. Hutagalung 1 P.Harahap/br.Siahaan 2 W. Siahaan/Br. Simanjuntak (A. Anggiat) 2 Jenico Siregar/br.Siahaan (bere) 3 Sudung Siahaan/Br.Jawa 3 Joni Siregar/br.Simatupang (bere) 4 Sondang Siahaan/Br.Sihite 4 D.Hutahaean/br. (bere) 5 Hekson Siahaan/Br.Jawa 5 Sofian Hutahaean/br. (bere) 6 Hotman Siahaan/Br. Sitohang 6 BR.Hutahaean/br.Munthe (bere) 7 Rimson Siahaan/br. Nainggolan 7 Doloksaribu/br.Manurung (bere) 8 M. Siahaan/Br. Silaban (A.Boy) 8 J.Simanjuntak/br. Siahaan (A.Edo) 9 J.Sitohang/br.Simanjuntak (bere) 10 O.Sitohang/br.Batubara (bere) 2.OP.TUMIAR 11 Tambunan/br. (bere) 12 Tambunan cawang/br.Ht.barat (bere) 13 Tambunan/br. (bere) 14 S. Simamora/br….. (A.Cristin)/bere 15 Simamora/br (bere) 16 Simamora/br (bere) 17 Silaban/br.Simamora OP. SOINGGANON 1.OP.SAUDAGAR 1 M. Siahaan/Br.Tampubolon (Op.Inamora) SIBIRONG 2 J. Siahaan/Br. Pakpahan 3 R. Siahaan/Br.Butar-butar (A.Bastian) 2.OP.KALVIN OP. HUALA 1.OP. MARHASSING 1 L. Siahaan/br. Sianipar (Op. Romauli) 1 M.Siahaan/br.Tampubolon (bere) 2 O. Siahaan/br. Manurung (A. Romauli) 2 SP.Sinaga/br.Siahaan (A.Kamti) 2.OP.MARSONTANG 3 P. Siahaan/br. Manurung 3 Sirait/br.Sianipar 4 A. Siahaan/br. Panjaitan 4 P.Siregar/br.Siahaan 5 D. Siahaan/br. Munthe (A. Wen) 5 R.Tampubolon/br.Siahaan 6 M. Siahaan/br. Panjaitan 6 R.Tampubolon/br.Sitohang 7 R. Siahaan/br. Pasaribu 7 B.Tampubolon/br.Manurung 3.OP.UJUNGAN 8 J. Siahaan/br. Simanjuntak 8 B.Tambunan/br.Sihombing 9 Nelson Siahaan/br.Purba